Tugu Tgk. Peukan: Monumen Perlawanan dari Lembah Sabil yang Wajib Dikunjungi
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern Aceh Barat Daya, ada sebuah tugu yang berdiri kokoh di Kecamatan Lembah Sabil, menyimpan kisah heroik yang nyaris terlupakan. Namanya Tugu Teungku Peukan—sebuah monumen yang bukan sekadar tugu biasa, melainkan sakbis perlawanan seorang ulama-pejuang yang menggetarkan kolonial Belanda pada awal abad ke-20. Jika Anda pencinta sejarah dan pencari destinasi off the beaten track, tempat ini layak masuk daftar kunjungan Anda.
Siapa Teungku Peukan? Sang Ulama Kharismatik dari Abdya
Teungku Peukan lahir di Sawang, Aceh Selatan, pada tahun 1886. Ia adalah putra dari ulama besar Teungku Adam (Teungku Padang Ganting) dan Siti Zulaikha. Sejak muda, ia sudah dikenal sebagai ulama dan tokoh masyarakat yang sangat berpengaruh di kawasan Manggeng, Aceh Barat Daya. Pengaruhnya begitu kuat sehingga Belanda merasa terancam—terutama karena dalam setiap dakwahnya, Teungku Peukan tak pernah ragu menyerukan bahwa membela tanah air dari penjajahan adalah bagian dari ibadah.
Belanda berulang kali mencoba membungkamnya. Mulai dari boikot dakwah, hingga tekanan pajak tanah yang dipaksakan. Namun Teungku Peukan tak pernah gentar. Puncaknya, pada 9 September 1926, ia memimpin pasukan menyerang tangsi (benteng) Belanda di Blangpidie—kini menjadi Asrama Kodim 0110. Malam sebelumnya, ia dan pasukannya berzikir di Meunasah Ayah Gadeng, Manggeng. Dengan pakaian hitam dan obor sebagai penerang, mereka berjalan kaki sejauh 20 km menuju lokasi. Saat fajar tiba, pasukan Belanda yang masih tertidur di bivak dibuat kocar-kacir. Banyak serdadu Belanda tewas dalam serangan mendadak itu.
Namun, di balik kemenangan itu tersimpan kisah pilu. Saat Teungku Peukan mengumandangkan azan sebagai syukur atas kemenangan, ia ditembak dari belakang oleh marsose Belanda yang selamat. Ia gugur syahid tepat di tempat yang kini menjadi kompleks Masjid Jamik Baitul Adhim, Blangpidie. Jenazahnya dimakamkan di samping masjid kebanggaan masyarakat Abdya tersebut.
Arsitektur dan Suasana Tugu
Tugu Tgk. Peukan terletak di Desa Meurandeh, Kecamatan Lembah Sabil, Aceh Barat Daya. Bentuknya unik: menjulang sebagai bambu runcing berwarna kuning—simbol perlawanan rakyat Aceh yang ikonik. Meski sederhana, tugu ini dipugar dengan baik dan dikelilingi area yang asri. Halaman sekitarnya bersih, dengan beberapa pepohonan rindang yang memberikan keteduhan. Suasana di sini tenang, cocok untuk refleksi dan mengenang jasa pahlawan.
Tidak jauh dari lokasi tugu, Anda juga bisa mengunjungi RSUD Teungku Peukan—rumah sakit kebanggaan Abdya yang namanya diambil dari sang pahlawan. Ini menunjukkan betapa besar penghormatan masyarakat setempat terhadap sosok Teungku Peukan.
Daya Tarik & Aktivitas untuk Pengunjung
- Wisata Sejarah & Edukasi: Cocok untuk pelajar, mahasiswa, atau siapa pun yang ingin belajar sejarah perlawanan rakyat Aceh terhadap kolonialisme.
- Spot Fotografi: Tugu bambu runcing kuning dengan latar langit Aceh yang biru menghasilkan foto-foto estetik bernilai historis.
- Ziarah & Refleksi: Banyak peziarah datang untuk mendoakan arwah sang pahlawan dan merenungi nilai-nilai perjuangan.
- Berkeliling Lembah Sabil: Kecamatan ini menyimpan keindahan alam perbukitan dan kehidupan pedesaan yang masih sangat tradisional.
Lokasi & Akses
Tugu Tgk. Peukan berlokasi di Jalan Hasan Saleh, Jurung Karya, Dusun Bahagia, Gampong Neusu Jaya, Kecamatan Lembah Sabil, Kabupaten Aceh Barat Daya. Dari pusat kota Blangpidie, jaraknya sekitar 15–20 menit berkendara. Akses jalan cukup baik, bisa dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Tidak ada tiket masuk—pengunjung bisa datang kapan saja, namun waktu terbaik adalah pagi atau sore hari saat cuaca tidak terlalu panas.
Tips Berkunjung
- Datanglah pagi hari (sekitar pukul 08.00–10.00) untuk cuaca yang sejuk dan pencahayaan foto yang optimal.
- Bawalah air minum sendiri karena belum ada warung di sekitar area tugu.
- Gunakan pakaian sopan dan nyaman—ingat, ini adalah area monumen perjuangan dan dekat dengan permukiman warga.
- Jika ingin lebih mendalami sejarah, sempatkan mampir ke Masjid Jamik Baitul Adhim di Blangpidie untuk melihat makam Teungku Peukan.
- Kombinasikan dengan kunjungan ke destinasi lain di Abdya seperti Pantai Syiah Kuala atau Air Terjun Suhom.
Penutup
Tugu Tgk. Peukan bukan sekadar tugu. Ia adalah monumen perlawanan, pengingat bahwa kemerdekaan tidak datang begitu saja—melainkan lahir dari darah dan air mata para ulama dan pejuang. Di tengah gempuran modernisasi, tempat-tempat seperti ini perlu terus dikunjungi, dirawat, dan diceritakan kembali. Jadi, kapan Anda akan menjelajah ke Lembah Sabil?