Warung Inani Due
Namanya sederhana, begitu jugabangunannya yang berdiri menghadap jalan nasional poros Bima–Dompu di Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Namun bagi para pelintas dan warga lokal, Warung Inani Due bukan sekadar tempat mengisi perut. Ia adalah perhentian yang paling ditunggu—terutama ketika aroma asap daging se’i mulai terbawa angin sore, atau ketika sendok pertama jepa hangat dicelupkan ke dalam kuah uta palumara yang khas.
Inani Due, menurut penuturan pengelola, berarti “ibu dua anak”. Sosok ibulah yang pertama kali membuka warung ini dari dapur rumah kecilnya lebih dari satu dekade lalu, dengan tiga meja kayu dan menu andalan yang tak pernah berubah. Kini, warung ini telah menjelma menjadi salah satu tujuan kuliner yang sering direkomendasikan penduduk setempat kepada tamu dari luar Bima. Bukan karena kemewahan, melainkan kejujuran rasanya.
Di Tepi Jalan, Namun Jauh dari Kesan Biasa
Saat tiba, kita mungkin hanya melihat bangunan semi permanen dengan kursi plastik dan meja berlapis taplak khas. Tetapi begitu masuk, dapur terbuka di sisi kanan langsung memperlihatkan aktivitas memasak yang sibuk dan harum. Tidak ada menu bergambar besar, cukup papan tulis putih berpulpen spidol yang setiap pagi diperbarui. Di sinilah kesederhanaan menjadi daya tarik utama: kita dipersilakan duduk, memesan seperti orang rumah sendiri, dan menunggu makanan disajikan hangat-hangat.
Waktu terbaik untuk datang adalah pagi hingga menjelang siang, karena beberapa menu seperti sayur ubi muda dan jepa baru habis sebelum pukul satu siang. Menjelang senja, warung berubah lebih ramai dengan pesanan nasi campur Bima dan kopi hitam pekat. Udara kebun di belakang warung yang sejuk membuat pengalaman makan di sini terasa jauh dari hiruk-pikuk kota.
Menu yang Bercerita
Masakan di Warung Inani Due adalah cermin dari lumbung pangan Bima: jepa yang dibuat dari sagu, ikan laut segar dari Sape, daging se’i yang diasapkan lambat, serta sambal colo-colo yang segar dengan iris tomat dan kecur. Suapan pertamanya terasa familiar namun tetap membuka selera. Beberapa hidangan yang paling sering dipesan, antara lain:
- Jepa dengan kuah uta palumara — jepa lembut berwarna putih, disantap dengan kuah ikan teri dan asam segar. Kombinasi sederhana yang meninggalkan kesan mendalam.
- Nasi campur Bima — nasi hangat dengan lauk pilihan seperti ayam taliwang, telur, dan tumis kangkung, plus sambal khas Bima yang pedasnya ramah di lidah.
- Se’i daging — irisan tipis daging sapi yang diasapi dengan kulit kemiri dan rempah, lalu ditumis dengan cabai hijau. Aromanya mengundang selera, dimakan paling nikmat dengan nasi putih hangat.
- Plecing kangkung — kangkung rebus yang disiram sambal tomat dan perasan jeruk limau. Menyeimbangkan rasa gurih dan pedas.
Semua porsi di sini cukup besar untuk ukuran warung pinggir jalan. Harga yang ditawarkan pun ramah di kantong, membuat tempat ini sering dipilih para sopir truk yang melintas serta karyawan perkebunan di sekitar Bolo. Yang menarik, pelayanan di sini tidak terburu-buru. Para pramusaji akan dengan senang hati menjelaskan bahan-bahan dan menyarankan menu sesuai selera.
Hidup Bersama Kearifan Lokal
Yang membuat Warung Inani Due lebih dari sekadar restoran adalah cara ia terus menjaga ritme hidup lokal. Bahan baku dibeli dari petani dan nelayan langganan di sekitar Bima setiap pagi, sehingga cita rasanya mengikuti musim. Jepa dibuat secara tradisional setiap dua hari sekali, dan jumlahnya terbatas. Para tetangga sekitar pun ikut ambil bagian sebagai bagian dari dapur.
Bagi pelancong yang ingin merasakan sisi lain Pulau Sumbawa, singgah di warung ini adalah pelajaran kecil tentang kesabaran dan kehangatan. Tidak ada Wi-Fi, tidak ada pendingin ruangan, tidak pula musik yang bising. Yang ada adalah percakapan antar pengunjung, suara dapur yang berpadu, dan rasa masakan Bima yang otentik.
Ketika akhirnya kami memesan satu porsi jepa lagi untuk dibawa pulang, pemilik warung tersenyum dan berpesan, “Jangan lupa, sambalnya dipisah ya, biar tidak basi.” Perhatian sederhana seperti inilah yang membuat warung ini terasa seperti rumah kedua di tanah Bima.