Masjid Al Muhajirin: Ketika Spiritualitas Bertemu Kelezatan Kuliner di Bima
Di tengah hangatnya Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, berdiri megah Masjid Al Muhajirin. Sekilas, bangunan ini tampak seperti masjid pada umumnya—kubahnya menjulang, seruan azan berkumandang merdu dari pengeras suaranya. Namun bagi warga sekitar dan wisatawan yang pernah mampir, Masjid Al Muhajirin adalah lebih dari sekadar tempat shalat. Ia adalah pusat kegiatan umat yang dinamis, sekaligus gerbang menuju pengalaman kuliner khas Bima yang sulit dilupakan.
Yang membuat masjid ini menarik adalah atmosfernya yang hidup. Dari pagi hingga malam, halaman dan area di sekitar masjid tidak pernah benar-benar sepi. Seusai shalat Subuh, sebagian jamaah memilih duduk santai di serambi masjid sambil menikmati segelas kopi hitam khas Bima. Menjelang siang, tenda-tenda pedagang mulai berjejer rapi di sisi timur dan selatan masjid, menyajikan aroma menggoda dari masakan lokal yang dimasak segar. Inilah kenapa banyak orang menyebut Masjid Al Muhajirin sebagai destinasi religi sekaligus ruang kuliner yang menyatu dalam satu kesatuan.
Arsitektur dan Suasana yang Menyejukkan
Masjid Al Muhajirin memiliki desain arsitektur khas Nusantara dengan sentuhan Timur Tengah. Dindingnya yang didominasi warna krem dan hijau toska memberikan kesan teduh, sementara ornamen kaligrafi yang menghiasi dinding utama semakin memperkuat nuansa sakral. Ventilasi yang dirancang cukup terbuka membuat udara di dalam masjid tetap sejuk, bahkan di siang hari yang terik. Halaman masjid yang luas dengan paving rapi dan beberapa pohon rindang menjadi tempat favorit bagi keluarga untuk berteduh sambil menunggu waktu shalat.
Suasana di dalam masjid juga sangat mendukung untuk beribadah dengan khusyuk. Karpet tebal dan bersih, pencahayaan yang hangat, serta tata suara yang jernih membuat setiap shalat berjamaah terasa lebih khusyuk. Pada bulan Ramadan, masjid ini berubah menjadi lebih ramai dengan kegiatan tadarus, kajian, hingga buka puasa bersama yang rutin diadakan pengurus masjid.
Menjelajah Sajian Kuliner Khas Bima di Sekitar Masjid
Salah satu alasan mengapa Masjid Al Muhajirin masuk dalam kategori menarik untuk dijangkau wisatawan adalah keberadaan deretan kuliner halal di sekitarnya. Meskipun bukan restoran dalam arti formal, kawasan ini telah menjadi rujukan warga dan pengunjung yang ingin menikmati hidangan khas Bima tanpa repot mencarinya ke tempat lain.
Beberapa menu yang wajib dicoba saat berada di kawasan ini antara lain jepa, penganan tradisional berbahan dasar sagu dengan kondisi pipih yang dimakan bersama kuah sayur atau ikan. Teksturnya kenyal, rasanya netral, sehingga sangat pas disandingkan dengan lauk. Ada pula uti atau sagu bakar khas Bima yang biasa disantap dengan kelapa parut dan gula merah. Rasanya sederhana, tetapi membuat ketagihan. Jika Anda penggemar makanan berkuah, jangan lewatkan bola, semacam sup yang kaya rempah, biasanya diisi daging ayam kampung dan sayuran segar. Sementara itu, bagi yang ingin mencicipi hidangan pedas, menu ayam se'i dengan asap khasnya menjadi pilihan yang tepat—cocok dinikmati dengan nasi hangat dan sambal colo-colo.
Tidak lengkap rasanya mampir ke Bima tanpa menyeruput kopi khas Bima yang pekat. Banyak penjual kopi sederhana di sekitar masjid yang menyediakan kopi tubruk atau susu jahe yang cocok menemani sore yang tenang. Harga makanan dan minuman di kawasan ini tergolong bersahabat, mulai dari Rp10 ribuan untuk camilan tradisional hingga Rp50 ribuan untuk menu lengkap dengan lauk. Kombinasi antara wisata religi dan wisata kuliner yang terjangkau menjadikan Masjid Al Muhajirin pilihan ideal bagi Anda yang ingin merasakan Bima secara utuh.
Fasilitas Penunjang yang Membuat Nyaman
Masjid Al Muhajirin dilengkapi berbagai fasilitas yang memudahkan pengunjung. Area parkirnya cukup luas, mampu menampung puluhan sepeda motor dan belasan mobil pada waktu-waktu ramai seperti hari Jumat atau salat Ied. Tempat wudhu tersedia dalam jumlah memadai di sayap kanan dan kiri, dengan air yang selalu mengalir lancar. Toiletnya juga dirawat dengan baik dan terpisah antara laki-laki dan perempuan. Tak kalah penting, terdapat ruang serbaguna yang sering digunakan untuk pertemuan warga dan acara keagamaan. Beberapa warung makan di sekitar masjid juga menyediakan tempat duduk lesehan atau bangku sederhana yang nyaman untuk menikmati hidangan santai bersama keluarga.
Bagi wisatawan yang ingin membawa pulang kenang-kenangan, sejumlah pedagang kecil menjual oleh-oleh khas Bima seperti kerupuk jagung, madu hutan, atau songket dengan ragam motif tradisional. Anda bisa membelinya sebelum melanjutkan perjalanan menuju objek wisata lain di Kabupaten Bima, seperti Pantai Sangeang atau Batu Gantung.
Waktu Terbaik untuk Berkunjung
Masjid Al Muhajirin sendiri dapat dikunjungi kapan saja karena merupakan tempat ibadah yang dibuka hampir 24 jam. Namun, untuk merasakan atmosfer yang paling hidup, waktu terbaik adalah saat sore menjelang magrib. Pada saat itu, para pedagang kuliner sudah mulai menata dagangannya, sementara jamaah berdatangan untuk shalat berjamaah. Suasananya terasa hangat dan penuh keakraban, terutama jika Anda datang bersama keluarga atau rombongan wisata.
Di akhir pekan, kawasan masjid juga sering menjadi tempat berkumpulnya anak-anak muda Bima yang nongkrong sambil berbagi cerita. Tidak sulit untuk berbaur sebab warga Bima dikenal ramah dan terbuka terhadap pendatang. Jika Anda beruntung, Anda juga bisa menyaksikan acara kesenian Islami seperti hadrah atau qasidah yang kadang digelar di halaman masjid pada malam-malam tertentu.
Informasi dan Kontak
Untuk memudahkan koordinasi, Anda dapat menghubungi pengelola Masjid Al Muhajirin melalui telepon di +62 852-3900-2571 jika ingin bertanya seputar kegiatan masjid, jadwal pengajian, atau sekadar memastikan kondisi kawasan kuliner sekitar. Jangan ragu untuk bertanya jika Anda membut