Tempat Wisata KAB. BANGLI, BALI

Desa Wisata Penglipuran

Desa tradisional Bali yang menjual kerajinan tangan dan produk lokal serta menawarkan akomodasi homestay.

D
Kurasi Redaksi DISEKITAR 04 September 2026 · 3 min baca
Bagikan:

Desa Wisata Penglipuran: Harmoni Budaya dan Alam di Jantung Bali

Ada satu tempat di Bali yang terasa seperti melangkah ke dalam lukisan masa lalu, di mana waktu bergerak lambat dan kearifan lokal masih terawat utuh. Itulah Desa Wisata Penglipuran, sebuah desa adat di Kabupaten Bangli yang berhasil mempertahankan tata ruang, tradisi, dan gotong-royong selama berabad-abad. Dengan rating 4,8 dari lebih dari 31.000 ulasan di Google Maps, Penglipuran bukan sekadar destinasi foto—ia adalah laboratorium hidup tentang bagaimana manusia bisa selaras dengan lingkungan dan leluhur.

Menapaki Jalan Setapak yang Bersih dan Teduh

Begitu kaki Anda menginjak pintu gerbang utama, Anda akan disambut oleh jalanan utama yang lebar, beraspal rapi, dan dihiasi pepohonan bambu yang menjulang di kedua sisi. Udara sejuk langsung terasa, karena desa ini terletak di dataran tinggi sekitar 600 meter di atas permukaan laut. Jalan setapak itu mengarah ke deretan rumah-rumah tradisional dengan arsitektur khas Bali—gapura angkul-angkul, dinding bata merah, dan halaman yang tertata apik tanpa pagar pembatas. Setiap sudut terawat seperti taman, karena warga memang menjalani ritual nyegara gunung, membersihkan lingkungan setiap hari sebagai bentuk rasa syukur.

Wisatawan sering terpana bukan hanya oleh keindahan, tapi oleh kedisiplinan ekologis: tidak ada sampah berserakan, tidak ada kendaraan bermotor di jam-jam tertentu, dan semua aktivitas ekonomi berlangsung tanpa merusak ketenangan desa. Anda akan mendengar suara ayam berkokok, gemerisik bambu, dan sesekali alunan gamelan dari pura desa—sebuah simfoni yang sulit ditemukan di pusat-pusat wisata mainstream.

Fasilitas yang Ramah tanpa Menjual Identitas

Penglipuran bukanlah taman hiburan. Ia adalah desa hidup yang membuka pintu untuk belajar. Beberapa fasilitas yang disediakan untuk pengunjung: area parkir luas, toilet bersih, musala kecil, dan warung-warung lokal yang menjual minuman segar serta makanan ringan khas Bali. Ada juga panggung terbuka untuk pertunjukan tari pada hari-hari tertentu, serta gazebo bambu di beberapa titik untuk bersantai menikmati pemandangan sawah terasering di kejauhan. Yang menarik, seluruh fasilitas dibangun dengan material alami dan dikelola oleh warga setempat melalui sistem subak dan banjar, sehingga setiap rupiah tiket masuk langsung kembali ke pemeliharaan desa.

Bagi Anda yang ingin merasakan lebih dalam, tersedia homestay sederhana yang dikelola langsung oleh keluarga-keluarga di desa. Menginap di Penglipuran memberi Anda kesempatan untuk ikut serta dalam aktivitas harian seperti membuat canang (sesajen), belajar memasak lawar, atau sekadar duduk di teras rumah sambil berbincang dengan pemilik homestay yang biasanya sangat ramah dan terbuka.

Lokasi Strategis dan Cara Menuju

Desa Wisata Penglipuran terletak di Jalan Penglipuran, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli, sekitar 45 menit berkendara dari Ubud dan 1,5 jam dari Bandara Ngurah Rai. Perjalanan menuju desa ini cukup mudah dengan kendaraan pribadi atau sewa—jalan beraspal mulus dan rambu-rambu jelas. Dari pusat Kota Bangli, hanya butuh waktu 15 menit. Karena posisinya yang berada di jalur menuju Kintamani, banyak wisatawan menjadikan Penglipuran sebagai persinggahan sebelum melanjutkan perjalanan ke pegunungan Batur.

Harga dan Informasi Praktis

Tiket masuk ke Desa Wisata Penglipuran sangat terjangkau: Rp 25.000 untuk wisatawan domestik dan Rp 50.000 untuk wisatawan mancanegara (harga dapat berubah, disarankan mengecek langsung). Pengunjung juga dikenakan biaya parkir kendaraan terpisah yang masih sangat ringan. Jam operasional dimulai pukul 06.00 hingga 18.00 WITA, tetapi jika Anda menginap di homestay, Anda bisa menikmati suasana desa pada pagi buta atau malam hari—ketika cahaya matahari menyinari atap-atap rumah dan kabut tipis menyelimuti lembah.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan: kenakan pakaian sopan (terutama saat berdekatan dengan pura), bawa air minum sendiri karena warung terbatas, dan selalu minta izin sebelum memotret warga atau bagian dalam rumah. Dan satu lagi, siapkan kamera—karena setiap sudut Penglipuran adalah spot instagenic yang tidak pernah mengecewakan.

Lebih dari Sekadar Instastory

Desa Wisata Penglipuran mengajarkan satu hal penting: bahwa pariwisata tidak harus merusak, dan modernitas tidak harus melupakan akar. Di tengah gempuran resort mewah dan klub pantai, Penglipuran berdiri sebagai oase yang mengingatkan kita akan Bali yang dulu. Sebuah desa yang tidak hanya indah di foto, tapi juga kaya di cerita. Jika Anda mencari pengalaman yang bermakna, bukan sekadar liburan, Penglipuran adalah jawabannya. Datanglah, duduklah, dan biarkan desa ini berbicara dengan caranya sendiri—dalam diam, dalam bambu, dalam senyum warganya.

Galeri & Suasana

Eksplorasi Lanjutan

Cerita Terkait di KAB. BANGLI

Sukawana Sunrise Spot Foto: Google Maps
Tempat Wisata

Sukawana Sunrise Spot

Menyaksikan Magis Fajar dari Ketinggian Sukawana Sunrise Spot Kintamani selalu punya cara tersendiri untuk memikat hati para pelancong yang merindukan kesejuka...

Air Terjun Langgahan Foto: Google Maps
Tempat Wisata

Air Terjun Langgahan

Air Terjun Langgahan: Permata Tersembunyi di Kesejukan Dataran Tinggi Bangli Bali selalu menyimpan sudut-sudut magis yang belum terjamah riuhnya pariwisata mas...