Warung Sarapan Nenek Izzan: Hangatnya Pagi di Ujung Selatan Nias
Di Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara, pagi tidak pernah dimulai dengan tergesa-gesa. Matahari perlahan menyapu kabut dari bukit-bukit karst, dan aroma kopi tumbuk mulai menyeruak dari sebuah warung kecil di pinggir jalan menuju Pantai Sorake. Namanya Warung Sarapan Nenek Izzan—sederhana, tapi punya daya tarik yang membuat siapa pun rela bangun lebih awal.
Warung ini bukan sekadar tempat mengisi perut. Ia adalah ruang tunggu bagi para peselancar yang menanti ombak, tempat para pedagang pasar menghangatkan badan, dan persinggahan bagi siapa saja yang ingin merasakan Nias yang sesungguhnya: lambat, ramah, dan penuh rasa.
Sajian yang Selalu Sama, Rasa yang Tak Pernah Berubah
Menu andalan di warung ini adalah sagu leni—olahan sagu khas Nias yang disajikan hangat bersama ikan cakalang suwir dan kuah santan kuning yang gurih. Nenek Izzan, pemilik sekaligus juru masaknya, sudah menguleni adonan sagu sejak pukul tiga pagi. Katanya, sagu harus diuleni sebelum ayam berkokok agar teksturnya kenyal dan tidak mudah basi.
Selain sagu leni, ada juga gohu—ikan mentah segar yang diiris tipis, dicampur perasan jeruk nipis, irisan cabai rawit, dan kelapa parut. Rasanya segar, sedikit pedas, dan sangat cocok dinikmati dengan kopi hitam pekat yang diseduh ala tubruk. Untuk yang ingin sarapan lebih ringan, tersedia pisang goreng dan ubi rebus yang diambil langsung dari kebun belakang warung.
Harga yang ditawarkan sangat bersahabat. Sepiring sagu leni lengkap dengan lauk dan sayur hanya dihargai sekitar Rp15.000–Rp20.000. Secangkir kopi tubruk cukup membayar Rp5.000. Dengan uang Rp30.000 saja, Anda sudah bisa menikmati sarapan yang mengenyangkan sekaligus memuaskan lidah.
Suasana yang Tidak Bisa Dibeli di Kafe Modern
Meja kayu panjang di depan warung adalah tempat terbaik untuk menikmati sarapan sambil mengamati aktivitas warga. Sesekali, Nenek Izzan akan duduk di samping Anda dan bercerita tentang masa mudanya, tentang bagaimana dulu ia ikut menari tari perang saat upacara adat, atau tentang anak-anaknya yang kini merantau ke Medan. Cerita-cerita itu mengalir apa adanya, tanpa diminta, seperti suguhan gratis yang tidak akan Anda temukan di kafe mana pun.
Warung ini memang tidak memiliki pendingin ruangan, wifi, atau colokan listrik di setiap sudut. Yang ada hanyalah tikar pandan, kipas angin tua yang berdengung pelan, dan suara ayam berkokok dari kejauhan. Namun justru di situlah letak keistimewaannya: Anda dipaksa untuk hadir sepenuhnya, menikmati pagi tanpa distraksi.
Lokasi dan Waktu yang Tepat untuk Berkunjung
Warung Sarapan Nenek Izzan berlokasi di Desa Bawomataluo, Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan—sekitar 20 menit berkendara dari pusat Kecamatan Teluk Dalam. Warung ini berada di tepi jalan utama menuju Pantai Sorake, sehingga mudah ditemukan. Jika Anda datang dari Bandara Binaka di Gunungsitoli, perjalanan memakan waktu sekitar 3–4 jam dengan mobil sewaan atau bus umum.
Warung buka setiap hari mulai pukul 05.00 hingga 11.00 WIB. Namun, jika Anda ingin mencicipi sagu leni yang paling hangat dan mendapatkan porsi paling banyak, datanglah sebelum pukul 07.00. Setelah pukul 09.00, biasanya beberapa menu sudah habis, terutama saat musim liburan atau ketika ombak sedang bagus.
Rekomendasi untuk Pengunjung
- Datang sebelum matahari terik—selain lebih sejuk, Anda bisa menyaksikan proses pembuatan sagu leni langsung dari tangan Nenek Izzan.
- Jangan ragu meminta tambahan kuah—Nenek Izzan justru senang jika pengunjungnya makan dengan lahap. Kuah santan kuningnya bisa diminta tambah tanpa biaya.
- Kombinasikan dengan wisata sekitar—setelah sarapan, lanjutkan perjalanan ke Desa Bawomataluo untuk melihat lompat batu (fahombo) atau ke Pantai Sorake untuk berselancar.
- Siapkan uang tunai—warung ini belum menerima pembayaran digital, dan jaringan internet di area sekitar kadang tidak stabil.
- Bawa wadah sendiri—jika ingin membawa pulang sagu leni untuk oleh-oleh, sebaiknya bawa wadah sendiri karena warung hanya menyediakan bungkus daun pisang.
Warung Sarapan Nenek Izzan adalah pengingat bahwa kuliner terbaik tidak selalu datang dari dapur mewah dengan resep rahasia yang dijaga ketat. Kadang, kehangatan sebuah pagi, keramahan seorang nenek, dan sepiring makanan sederhana yang dimasak dengan cinta sudah cukup untuk menjadi alasan kita kembali.