Warung Nenek Nunu Toke: Ngopi di Pinggir Sawah, Cerita Menyeruak dari Nias
Di tengah hiruk pikuk Pulau Nias yang lebih sering dikenal lewat tradisi lompat batu dan debur ombak, ada sebuah warung kecil yang tidak pernah masuk daftar destinasi wajib. Namanya Warung Nenek Nunu Toke. Jangan bayangkan kedai kopi kekinian dengan lampu temaram dan kursi rotan. Warung ini mungil, berdinding anyaman bambu, dan atapnya disangga kayu tua yang dimakan usia. Tapi justru di sinilah denyut kehidupan lokal terasa paling kental.
Warung itu berdiri di bibir sawah, sekitar dua puluh menit berkendara dari pusat Kecamatan Gido, Kabupaten Nias. Sesampainya di sana, yang pertama menyambut adalah asap tipis dari tungku tanah liat dan aroma kopi robusta yang ditumbuk manual, campur bau pisang goreng yang sedang digoreng di wajan tua. Nenek Nunu Toke — pemilik sekaligus juru masak, barista, dan pendongeng — akan menyapa dengan senyum ompong yang langsung mencairkan rasa canggung.
Satu Meja, Seribu Cerita
Warung ini bukan tempat transaksi kopi singkat. Meja panjang dari kayu nangka yang memenuhi ruangan adalah pusatnya. Di meja itu, para petani karet yang baru pulang dari kebun duduk berdampingan dengan mahasiswa yang kabur dari kampus, atau wisatawan asing yang nyasar dan bertahan sampai maghrib. Nenek Nunu Toke tahu betul teknik membuka percakapan: cukup tanyakan kabar keluarga, lalu biarkan cerita mengalir seperti air sungai.
Saya duduk di bagian pojok, di dekat jendela yang membuka langsung ke hamparan sawah. Dari kejauhan, suara anak-anak bermain sepak bola terdengar pelan. Nenek Nunu menaruh sepiring kacang rebus dan secangkir kopi hitam yang masih mengepul. “Nak, jangan buru-buru,” katanya. “Kopi ini harus dilahap pelan-pelan, seperti hidup.
Menu yang Lahir dari Api dan Sabar
Menu di warung ini tidak tertulis di papan, karena setiap hari berbeda. Yang pasti, kopi selalu ada. Biji kopi diambil dari kebun tetangga yang dijemur di atas anyaman daun kelapa, lalu disangrai bersama kulit jagung agar muncul aroma khas Nias. Hasilnya pahit pekat dengan sisa manis yang anehnya datang belakangan — mungkin karena air yang dipakai langsung dari mata air bukit.
- Kopi Nunu Toke — kopi hitam klasik yang disajikan tanpa gula, ditemani gula aren cair sebagai penyeimbang.
- Kopi Susu Kampung — robusta yang dicampur susu kerbau segar, teksturnya kental dan sedikit asin.
- Pisang Goreng Toke — pisang kepok yang digoreng dengan minyak kelapa, kulitnya renyah, dalamnya lumer.
- Lauk Dian (ubi rebus) — ubi kayu yang direbus dalam air garam dan daun sereh, disantap dengan sambal andaliman.
- Es Kelapa Nias — kelapa muda pasti, dicampur sedikit jeruk nipis dan madu hutan.
Harga semua menu berkisar antara Rp10.000 sampai Rp35.000. Untuk ukuran warung pinggir sawah, ini bukan soal murahnya, melainkan soal ketulusan porsinya. Kenyang bukan satu-satunya akibat; kamu akan merasa seperti menumpang di rumah makan keluarga.
Lebih dari Sekadar Ngopi
Menjelang sore, Nenek Nunu Toke duduk di depanku sambil mengupas kacang. Ia bercerita bahwa nama “Toke” bukanlah nama asli, melainkan panggilan orang kampung karena suaranya yang berat seperti suara tokek besar. Ia tertawa sendiri, lalu menambahkan bahwa warung ini adalah anak keduanya; anak pertamanya merantau ke Medan. Terasa ada luka tipis di balik tawa itu, tapi justru di situlah kehangatan warung ini hidup.
Warung ini tidak punya lampu neon atau musik latar; yang ada hanyalah derit lantai bambu dan ayam berkokok di kejauhan. Memang bukan tempat untuk berfoto-foto, tapi justru karena itulah kamu dipaksa benar-benar hadir. Jika kamu beruntung, beberapa orang tua desa akan datang sambil membawa gitar, dan lagu-lagu Melayu Deli pun mengalun pelan. Tidak ada panggung, tidak ada daftar lagu, semuanya spontan.
Warung Nenek Nunu Toke juga menjadi titik temu bagi warga yang ingin berbagi hasil kebun. Sekilo durian ditukar dengan sepuluh gelas kopi, atau beberapa ekor ikan asin diganti dengan segenggam tembakau. Di tengah dunia yang semakin transaksional, ada siang yang kami habiskan tanpa uang keluar — hanya barter senyum dan cerita.
Pesan yang Kubawa Pulang
Menjelang petang, ketika langit Nias berubah menjadi gula-gula oranye, Nenek Nunu menyuruhku berdiri. Ia menunjuk ke bukit sebelah dan berkata, “Di sana dulu kami sembunyi saat perang. Sekarang, cuma hutan dan abu.” Aku tidak benar-benar mengerti maksudnya, tapi nasihat terakhirnya cukup jelas: “Kamu datang, kamu duduk, kamu mendengar. Itu sudah lebih dari cukup.”
Warung ini tidak akan muncul di brosur pariwisata Nias. Tidak ada akun media sosial, tidak ada ulasan daring. Tapi jika kamu kebetulan melewati jalan setapak yang menembus sawah, dan mendengar tawa renyah dari sebuah gubuk bambu, masuklah. Minumlah kopinya, ceritakan kisahmu, dan biarkan Nenek Nunu Toke mengajarkan bahwa tempat yang paling sederhana sering kali menyimpan ruang paling luas untuk memulihkan jiwa.