Bandara Husein Sastranegara: Ketika Landasan di Tengah Kota Berpamitan pada Riuhnya Penerbangan
Ada yang aneh—dan menyenangkan—tentang bandara yang berdiri nyaris di jantung kota. Di Bandung, selama puluhan tahun, pesawat-pesawat itu melintas rendah di atas atap rumah, gang-gang sempit, dan warung kopi yang belum sempat tutup. Bandara Husein Sastranegara bukan sekadar gerbang keberangkatan; ia adalah tetangga, saksi, dan kadang sumber keluhan warga yang jendelanya bergetar setiap kali Boeing 737 lepas landas.
Namun sejak akhir 2023, riuh itu mereda. Penerbangan komersial reguler dipindahkan ke Bandara Kertajati di Majalengka, dan Husein perlahan berubah wajah—dari bandara sipil yang sibuk menjadi pangkalan yang lebih tenang, didominasi aktivitas TNI AU dan penerbangan umum. Bagi pelancong yang pernah mengandalkannya, ini semacam perpisahan yang tidak pernah benar-benar diumumkan.
Tentang
Bandara Husein Sastranegara terletak di Jalan Pajajaran, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung. Namanya diambil dari seorang penerbang legendaris Indonesia, Husein Sastranegara, yang gugur dalam sebuah kecelakaan pesawat latih pada 1946. Bandara ini dikelola oleh PT Angkasa Pura II dan berstatus sebagai bandara kelas internasional—setidaknya sampai masa kejayaannya berakhir.
Yang membuatnya istimewa adalah lokasinya. Berjarak hanya sekitar 5 kilometer dari pusat kota, Husein adalah salah satu bandara paling "kota" di Indonesia. Dari alun-alun Bandung, Anda bisa sampai ke terminal dalam waktu 20 menit—jika lalu lintas bersahabat. Sebuah kemewahan yang jarang ditemui di kota-kota besar lain, di mana bandara biasanya dibuang jauh ke pinggiran.
Fasilitas
Di masa operasional penuhnya, Husein menyediakan fasilitas standar bandara domestik dan internasional:
- Terminal penumpang dengan ruang tunggu ber-AC, meski kapasitasnya sering kewalahan saat jam sibuk.
- Area check-in yang dilengkapi konter maskapai dan self check-in kiosk terbatas.
- Wi-Fi gratis di area publik terminal, dengan kecepatan yang cukup untuk sekadar membalas pesan.
- Colokan listrik tersebar di beberapa titik ruang tunggu—sayangnya tidak sebanyak yang diharapkan pelancong modern.
- Food court dan kios oleh-oleh, termasuk penjual brownies kukus dan keripik yang menjadi buruan khas wisatawan Bandung.
- Layanan taksi dan ojek online dengan titik jemput di depan pintu kedatangan.
- Area parkir berbayar yang cukup luas, meski sering penuh di akhir pekan.
Yang perlu dicatat: setelah pengalihan penerbangan komersial, banyak fasilitas ini mengalami pengurangan operasional. Beberapa tenant tutup, dan lalu lintas penumpang turun drastis. Bagi yang datang sekarang, suasana terasa seperti bandara yang sedang tidur panjang.
Lokasi
Alamatnya: Jalan Pajajaran No. 156, Husen Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Jawa Barat 40174. Aksesnya sangat mudah:
- Dari Stasiun Bandung (Hall): sekitar 3–4 km, bisa ditempuh 15–20 menit dengan taksi atau ojek online.
- Dari Stasiun Bandung (Selatan): sekitar 5 km, waktu tempuh 20–25 menit.
- Dari Alun-Alun Bandung: sekitar 5 km, 20 menit berkendara.
- Dari Jalan Braga: sekitar 3,5 km, cocok untuk jalan kaki santai jika cuaca bersahabat.
- Dari Bandara Kertajati: sekitar 150 km, 2,5–3 jam perjalanan darat—inilah "harga" yang harus dibayar setelah relokasi.
Bandara ini juga terhubung dengan jaringan angkutan kota (angkot) dan Trans Metro Bandung, meski tidak langsung ke pintu terminal. Dari halte terdekat, Anda masih perlu berjalan sekitar 500 meter atau naik ojek.
Harga dan Informasi Praktis
Karena statusnya kini bukan lagi bandara komersial reguler, informasi tarif penerbangan tidak lagi relevan untuk rute sipil umum. Namun untuk keperluan praktis di sekitar area:
- Parkir mobil: sekitar Rp5.000–Rp10.000 per jam, tergantung jenis kendaraan.
- Parkir motor: sekitar Rp2.000–Rp3.000 per jam.
- Taksi dari pusat kota: Rp30.000–Rp60.000, tergantung titik awal dan kondisi lalu lintas.
- Ojek online: Rp15.000–Rp30.000 dari area pusat kota.
- Fasilitas umum (toilet, musala): tetap tersedia dan gratis, meski beberapa area mungkin terbatas jam operasionalnya.
Bagi pelancong yang masih penasaran, bandara ini masih bisa dikunjungi—terutama untuk keperluan spotting pesawat kecil, latihan militer, atau sekadar mengenang masa ketika Bandung punya bandara yang benar-benar "di rumah sendiri".
Pada akhirnya, Husein Sastranegara adalah pengingat bahwa kota yang tumbuh cepat harus membuat pilihan sulit. Bandung memilih memindahkan penerbangannya ke Kertajati, dan Husein tinggal sebagai monumen bisu dari era yang tak akan kembali—setidaknya untuk sekarang.